Berburuk Sangka

Kota ini menyimpan banyak rasa, awalnya aku kira hanya rasa kecewa yang ada di sana. Di setiap sudut kota yang aku cerna hanya ada lara, pilu membiru.
Tapi aku yakin, Jogja tidak sejahat itu. Ia pasti tak henti-henti untuk memberikan rasa nyaman dan kebaikan. Karena Jogja istimewa, katanya.

Dan di suatu malam yang cerah, aku mendengar dari kejauhan bunyi besi tua itu mendekat. Sayup-sayup diiringi rentetan omelan dari seseorang yang sangat bersikeras untuk bersua. Aku pun bersikeras juga, untuk tidak menemuinya. Lalu kulanjutkan dengan melewati jalanan Jogja yang ramah pada saat itu, melewati tugu, Sayidan hingga ke jalur selatan. Percakapan kita seperti lagu yang mengiringi sebuah adegan pada film, namun pada versiku, lagu ini tanpa instrumen. Hanya berisi lirik yang padat yang bisa didengar di setiap tikungannya.

Sempat terhenti di sebuah situasi dimana orang-orang berkerumun. Melihat-lihat dan bernostalgia sesuai tema yang diberikannya. Retro, mungkin seperti gaya kami pada saat itu. Aku berpikir bahwa acara itu diadakan memang  untuk menunjang kegiatan kami. Tapi aku terlalu percaya diri, padahal, ya memang kebetulan saja.

Tapi aku lebih percaya bahwa semua yang terjadi pasti ada alasannya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, karena aku pun yakin alasan yang diberikan pastilah baik walaupun cara yang dipertunjukkan terkadang menyakitkan. Jadi, terima kasih telah meberikan sudut pandang yg indah untuk hatiku yang sedang susah.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhirnya Sampai Juga

I'll through this

Buku Kosong yang Perlu Diisi